Weblog Abuyusoef aka Abuyya

Just another WordPress.com weblog

Pengertian Ilham

Apakah Yang Dimaksudkan dengan Ilham?

Al-Qur’an menyebutnya dalam bentuk fi’lun madhi (kata kerja sudah berlaku) iaitu dalam Surah Asy-Syams 7-8 :

فالهمها فجورها وتقوها

“Lalu diilhamkan (Allah) kepadanya mana yang buruknya dan mana yang taqwanya (baiknya).”

 

Al-Mu’jam Alfaazhil Qur’anil Karim, Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyyah menyatakan makna ayat tersebut sebagai “Allah menanamkan ke dalam jiwa perasaan yang dapat membezakan antara kesesatan dan petunjuk.” Makna ini didasarkan oleh riwayat para mufassir (pentafsir) terdahulu seperti Mujahid dan lain-lain. Kemungkinan orang sekarang menamakannya sebagai hati nurani.

 

Kamus Al-Muhith menyebutkan: “Allah mengilhamkan padanya kebaikan, yaitu Dia mengajarkannya kepadanya.” Az-Zubaidi membicarakan maksud yang disebut dalam al-Muhith di dalam kitabnya Tajul Arus, bab (Khat) ketika mengupas mengatakan: “Ilham ialah apa-apa yang diletakkan dalam hati dalam bentuk yang melimpah dan khusus dengan sesuatu yang datangnya daripada Allah atau daripada para Malaikat.” Dikatakan pula: “Meletakkan sesuatu di dalam hati, yang karenanya hati menjadi tenteram dan hal itu dikhususkan oleh Allah bagi para hamba yang dikehendakiNya.”

 

Di dalam Lisanul Arab (definisi ini diambil dari kitab An-Nihayah, yang disusun oleh Ibnul Atsir) pula disebutkan: “Ilham ialah Allah menanamkan di dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya Allah mengkhususkan siapa saja yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.”

 

Di dalam Syarh Aqidah Nasafiyyah (Syarh al-’Aqa’idun Nasafiyyah, At-Taftazani, beserta kedua hasyiyyah-nya, hal. 41, Mustafa Al-Halabi) dinyatakan: “Ilham adalah menanamkan sesuatu dalam hati secara melimpah.” Manakala At-Ta’rifat (Al-Jurjani, hal. 57, Tahqiq oleh DR Abdul Rahman ‘Umairah, Alamul Kutub Bairut) dikatakan: “Ilham adalah apa yang ditanamkan di dalam hati dengan cara yang melimpah.” Sementara di dalam An-Nihayah (An-Nihayah fii Ghariibil Hadiitsi wal Atsar, Ibnul Atsir, bab La-ha-ma, IV/282, Isa Al-Halabi) pula dikatakan : “Ilham ialah Allah meletakkan di dalam jiwa seseorang perintah yang membangkitkannya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dan hal itu termasuk jenis wahyu yang dikhususkan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya di antara para hambaNya.”

 

Dalam Sahih Bukhari dan Muslim dalam bab ‘haddatha’ mereka menyebut sebuah hadits shahih: “Sungguh telah ada pada umat terdahulu para muhaddithun, dan jika ada seseorang dari umatku, maka ia adalah Umar bin Khattab.” Kemudian dinyatakan dalam an-Nihayah: “Pentafsiran dari hadith ini ialah mereka itu adalah orang-orang yang diberikan ilham & orang yang diberikan ilham adalah orang yang dalam dirinya diletakkan sesuatu lalu dengannya ia diberi tahu tentang suatu perkiraan atau suatu firasat. Hal ini semacam sesuatu yang dikhususkan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari para hamba yang dipilihNya, misalnya Umar, seolah-olah disampaikan pembicaraan kepada mereka lalu mereka mengatakannya.”

 

Dari definisi di atas dapat disimpulkan, Ilham adalah penyampaian suatu makna, fikiran atau hakikat di dalam jiwa atau hati secara melimpah. Maksudnya Allah SWT menciptakan padanya ilmu daruri yang ia tidak dapat menolaknya, yaitu bukan dengan cara dipelajari akan tetapi dilimpahkan ke dalam jiwanya bukan karena kemahuannya.

 

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Madaarijus Saalikiin menyatakan perbezaan di antara ilham dan tahdith iaitu tahdith sifatnya lebih khusus dari ilham, berdasarkan hadith Bukhari tentang Umar ra di atas, sehingga setiap tahdith adalah ilham tapi tidak setiap ilham adalah tahdith. Seorang mukmin (manusia yang mukallaf) akan diberikan ilham sesuai taraf keimanannya kepada Allah SWT, seperti disebutkan dalam ayat-ayat:

 

alqasas7.jpg

َ

 

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu bimbang terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu bimbang dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qasas, 28:7)

 

almaidah111.jpg

 

“Dan (ingatlah), ketika AKU ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”. (Al-Ma’idah, 5:111)

 

Dan juga diberikan kepada makhluk yang tidak mukallaf, sebagaimana dalam firman-NYA yang lain;

 

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون

َ

 

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibina manusia.” (An-Nahl, 16:68)

 

 

 

Ilham, Kasyaf, Mimpi, dan Firasat Tidak Boleh Dijadikan Hujah Syari’at

 

Kesepakatan para ulama usul iaitu ilham, firasat, mimpi dan kasyaf, semuanya itu bukan hujah syari’at baik dalam masalah amal mahupun ibadah apatah lagi dalam masalah iktikad (aqidah). Para ulama usuluddin dan usul fiqh telah ijmak dalam masalah ini, mereka menolak orang yang menganggapnya sebagai hujah dan menolak segala sesuatu yang didasarkan kepadanya. An-Nasafi (Al-Aqa’idun Nasafiyyah, beserta syarhnya, hal. 41, Musthafa Al-Halabi) berkata: “Menurut ahlul-haqq ilham itu bukanlah salah satu sebab dari sebab-sebab untuk mengetahui kebenaran sesuatu.”

 

Imam Abu Zaid ad-Dabusi salah seorang ulama Hanafiyyah berkata : “Ijmak ulamak – ilham tidak boleh diamalkan, kecuali jika pada hal yang mubah yang tidak terdapat sama sekali dalil syari’ah tentangnya. Jadi keharusan mengamalkan ilham terikat dengan dua perkara: 1) Hendaklah tidak ada dalil syari’ah dalam masalah tersebut, baik dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, Qiyas dan dalil-dalil lain yang diperselisihkan. 2) Hendaknya hal itu dalam hal-hal yang mubah (harus), sedangkan dalam masalah yang wajib, haram, makruh dan sunnah maka tidak dapat disandarkan kepada ilham seorang mulhim maupun kasyaf seorang kasyif.”

 

Dalam Al-Muwaafaqaat, Imam Asy-Syatibi [12] lebih terperinci berkata: “Di antara contohnya jika seorang Hakim yang telah mendengar kesaksian 2 orang saksi yang adil, lalu Hakim tersebut bermimpi Nabi SAW berkata kedua saksi itu tidak adil, maka mimpi itu harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip syariat. Demikian pula jika seseorang mendapat kasyaf atau firasat tentang air yang akan digunakannya untuk berwuduk adalah najis, sedangkan berdasarkan fakta air tersebut tidak najis, maka dia tidak boleh meninggalkan air itu dalam keadaan apa jua pun. Semua ini didasarkan dalil sahih dari nabi SAW:

 

عَنْ زَيْنَبَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوٍ مِمَّا أَسْمَعُ مِنْه

ُ

 

Dari Zainab ra dari Ummu Salamah ra: Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu mengadukan perkara padaku, dan boleh jadi sebagian kamu lebih pandai berhujah dibanding yang lain, maka aku putuskan perkaranya sesuai dengan apa yang kudengar darinya…” (HR Muslim, bab “Menghukumi dengan Zahirnya dan Memutuskan dengan Hujah”, IX/102 no. 3231; hadits senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, IX/176 no. 2483.)

 

Demikianlah – lanjut Imam Asy-Syathibi rahimahullah – bahawa Rasulullah SAW mengambil keputusan berdasarkan bukti & fakta dan memerintahkan kita juga berbuat demikian, padahal banyak hal-hal yang beliau telah lebih dulu mengetahui permasalahannya ataupun hakikat kebatilannya, tapi beliau SAW tidak menghukumi kecuali berdasar bukti dan fakta, bukan berdasar hakikat yang telah beliau SAW ketahui sebelumnya.”

 

Sebagai contoh, Nabi SAW mengetahui rahasia orang-orang munafiq berdasarkan apa yang telah dibukakan Allah SWT padanya, tapi beliau SAW tetap menghukumi mereka berdasarkan lahiriah mereka dan baru bersikap tegas dan meluruskan jika telah ada pelanggaran terang-terangan dari mereka. Bahkan ketika para sahabat ra (yang juga telah membaca gelagat ketidakikhlasan isi hati para munafiqin tersebut berdasarkan firasat -penterjemah) ingin memperlakukan orang-orang munafiq tersebut seperti orang kafir, maka Nabi SAW bersabda: “Aku khuatir manusia akan berkata Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.”

 

 

Demikianlah, beliau SAW tetap memperlakukan mereka seperti yang lainnya, berdasarkan zahir dan bukan berdasarkan batin dan hal yang ghaib, maka kita tidak diperintah untuk membelah hati manusia untuk mengetahui hakikatnya. Jika terhadap firasat seorang mukmin saja tidak dapat menjadi hujah syar’iyyah untuk menetapkan benar dan salah, halal dan haram, bahkan sekadar hukum makruh dan sunnah, apalagi berbagai kisah khurafat yang dituturkan oleh seorang kafir musyrik yang dipakai untuk menentukan kebenaran aqidah?! Wallahu a’lam.

 

 

 

No comments yet»

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: